it was his first smile

biwaarchives
5 min readMay 24, 2024

--

Berurusan dengan database adalah hal yang memusingkan bagi Amara. Memahami konsep EER (Enhanced Entity Relationship), berkutik dengan komputer selama kurang lebih satu jam membuatnya ingin keluar dari laboratorium dan pergi mencari tempat yang menarik di Semarang.

Bahkan Alika dan Clarissa juga menyerah. Bukan karena mata kuliah ini susah tetapi suasana mereka masih pada masa liburan semester. Membuat otak mereka menolak untuk mencerna materi perkuliahan.

Amara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan laboratorium. Memastikan bahwa tidak hanya mereka bertiga saja yang pusing. Setelah memastikan semua orang sepertinya semua terlihat pusing.

Ada yang melamun menatap layar komputernya entah dengan pikiran apa. Tebakan Amara, pasti sedang memikirkan menu makan siang nantinya. Ada juga yang meletakkan kepalanya di atas meja, ada yang bermain ponsel. Bahkan ada yang membuka laman game online bukannya diagram EER.

Sudah hampir satu jam lebih dosen di depan sana menerangkan beberapa materi awal yang jelas saja tidak didengar oleh satu mahasiswa sedikitpun. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Meskipun ada satu orang yang terlihat menatap dosen seakan sedang memahami penjelasannya. Namun nyatanya ia sedang memikirkan tempat-tempat menarik di Kota Semarang. Ya, orang itu adalah Amara.

Amara yang sudah sangat jenuh memilih untuk bersandar di kursinya. Matanya terpejam memfokuskan kembali pikirannya. Ia membuka matanya perlahan, dan memutuskan untuk melihat ke arah jendela kaca ruang laboratorium ini. Netranya menangkap satu orang yang sangat Amara kenal.

Aksa. Lelaki itu menatap Amara. Amara yang tadinya tidak semangat kini bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Aksa yang berada di luar sana bersama ketiga temannya di sampingnya, masih saja menatap Amara.

Mereka saling beradu pandang selama satu menit. Aksa yang merasa pandangan itu tidak kunjung berhenti memilih untuk mengulas sebuah senyuman. Senyuman menyapa.

Senyuman yang membuat Amara terkejut. Senyuman yang belum pernah Amara lihat sebelumnya. Senyuman yang berbeda dari biasanya Aksa ketika di kelas.

Lelaki itu memperlihatkan garis bibirnya melengkung sempurna. Mata yang menatap lembut. Membuat Amara lagi-lagi jatuh cinta kepada Aksa. Senyuman itu masih bertahan hingga satu menit lagi telah mereka lewati.

Amara dengan wajah terkejutnya masih diam menatap Aksa. Tanpa membalas senyuman itu. Jantungnya lebih dahulu menguasai tubuhnya dibandingkan mulut yang ingin membalas senyuman itu.

Aksa yang sedikit keheranan kini membuka mulutnya mengucapkan sebuah kalimat yang tidak bisa Amara rasakan suaranya.

“Susah ya?”

Kira-kira seperti itulah Amara menangkapnya. Ia mengangguk sebagai jawaban. Setelah dua menit lamanya akhirnya Amara melakukan hal yang berbeda, selain hanya diam terkejut. Aksa mengucapkan sebuah kalimat lagi, yang mengharuskan Amara tetap menatap lekat lelaki itu.

“Diperhatiin kalo susah.”

Kalimat itu yang diucapkan oleh Aksa. Amara tersenyum dan mengangguk sebagai respon. Segera Amara mengalihkan pandangannya. Tanpa tahu respon apa yang diberikan Aksa setelah melihat anggukan Amara.

Saat kembali menatap layar komputer di depannya. Justru bukan gambar diagram yang muncul di sana melainkan wajah Aksa yang tersenyum. Senyuman yang berhasil memikat Amara. Amara memejamkan matanya. Segera Amara menepis pikiran itu. Ia menundukkan kepalanya, mengerutuki dirinya yang tiba-tiba menggila hanya karena senyuman yang sepertinya tidak seberapa berharganya.

“Sumpah, Ra, lo kenapa sih di senyumin doang udah kek gini,” batinnya seraya menghentakkan kaki.

Alika yang berada di sampingnya menyenggol tubuh Amara. “Lo kenapa, anjir?” bisiknya memastikan suara Alika tidak terdengar oleh siapapun. Amara mendongak melihat Alika. “Gapapa,” ucapnya seraya mencuri pandang ke arah jendela yang masih terlihat ada Aksa di sana. Bedanya lelaki itu sudah asik tertawa dengan teman-temannya.

Perkuliahan yang masih membosankan akhirnya selesai. Buru-buru Amara dengan kedua temannya — Alika dan Clarissa — keluar. Kakinya berhasil menginjak ke luar lorong, yang cukup panas. Berbanding terbalik dengan ruangan tadi. Kerumunan orang di luar lorong menunjukkan pergantian kelas.

“Halo, Ra,” sapa seseorang. Amara menoleh ke sumber suara. Ternyata Aksa sedang bersandar di tembok dengan tangan yang melingkar sempurna di dadanya.

Lagi dan lagi, Aksa tersenyum seperti tadi. Bibirnya membentuk lengkungan yang sempurna. Kali ini detak jantung Amara semakin kencang dibandingkan tadi. Pasalnya senyuman itu nampak lebih jelas. Lekuknya, mata yang menyipit. Terlihat indah. Sangat bisa Amara rasakan.

Aksa berjalan mendekat, masih dengan senyuman yang tidak pudar. “Kelas apa?” tanyanya yang berhasil membuat Amara kikuk.

“E e— itu Basis Data Lanjutan,” jawabnya dengan gugup.

Lelaki itu mengangguk. “Duluan ya.”

Aksa berjalan meninggalkan Amara yang berdiri di tengah-tengah lorong dengan keadaan jantung yang masih berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam berniat menormalkan detak jantungnya. Dadanya terasa sesak tetapi bukan sesak yang menyakitkan.

Sial. Baru begitu Amara sudah kewalahan. Apalagi kalau ia harus berhadapan dengan Aksa setiap harinya, yang ada Amara akan menggila. Amara sudah bisa memastikan senyuman itu akan ia ingat hingga terbawa mimpi.

“Heh, Ra, ayo!” seru Clarissa berada di ujung lorong.

Amara tersadar, ia berjalan pelan seraya memegang perutnya — ada kupu-kupu di dalamnya.

“Lo gapapa, Ra?” tanya Alika yang melihat Amara berjalan pelan sambil memegang perutnya. Pikir Alika maag Amara kambuh. Amara menoleh keheranan kemudian ia terkekeh kecil.

“Gapapa,” ucapnya. Apa-apa Amara sedang kenapa-napa. Aslinya Amara sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi. Seluruh tubuhnya melemas akibat senyuman Aksa yang menarik hatinya.

“Gak sakit toh?” tanya Clarissa yang sedikit khawatir. Amara menggeleng seraya melontarkan senyum kegirangan.

“Aneh banget lo,” ujar Clarissa. Wajah Amara tiba-tiba sumringah dengan tangan yang masih memegang perutnya.

Kedua temannya ini tidak tahu interaksi Aksa dan Amara tadi yang membuatnya menjadi seperti ini. Alika dan Clarissa juga belum mengetahui fakta bahwa Amara menyimpan rasa kepada Aksa. Bukannya tidak percaya dengan mereka. Namun, Amara merasa belum saatnya mereka tahu, terlebih Alika dan Clarissa kenal dengan Aksa. Takutnya bakal jadi bahan ceng-cengan.

Di satu sisi oknum yang membuat Amara salting — Aksa, sudah duduk di barisan paling belakang ruangan laboratorium yang tadi dipakai Amara.

“Tumben ndes, mesem kek ngono,” Tumben, senyum kayak gitu ujar Bima yang ternyata memperhatikan interaksinya dengan Amara. Aksa mengernyitkan dahinya mencoba memahami perkataan Bima. “Lha biasane yo ngono,” Lha biasanya ya gitu ucapnya membantah.

Bima menatap tajam. Walaupun Bima baru mengenal Aksa pada saat awal perkuliahan tetapi ia tahu betul seperti apa karakteristik Aksa. Termasuk senyuman itu. Jarang atau bahkan hampir tidak pernah Aksa mengulas senyuman itu. “Rak tau su, mesemmu lho sok ganteng. Karo Amara tok koe ngono.” Gak pernah, senyummu lho sok ganteng. Sama Amara doang lo gitu

Aksa hanya berdiam tanpa menjawab. Perkataan Bima membuatnya berpikir. Apa iya senyumnya tadi beda? Tahu darimana Bima?

Merasa ada yang sedikit aneh dari dirinya. Tetapi yang namanya Aksa tidak begitu peduli dengan hal sepele seperti itu. Ia langsung menipis pikirannya dan meraih ponsel dari saku celananya.

Tidak peduli? Sepertinya peduli. Buktinya ia langsung membuka room chat dengan nama kontak ‘amara’. Mengetik sebuah pesan menyapa. Entah dorongan dari mana itu.

Aksa meletakkan ponselnya setelah berhasil mengirimkan sebuah pesan. Ia menyandarkan badannya ke kursi. Matanya fokus memperhatikan dosen yang sudah ada di depan sana.

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

Unlisted

--

--

biwaarchives
biwaarchives

No responses yet

Write a response